LIhat
Dalam upaya mencari energi bersih, kita telah beralih ke langit dan matahari — namun salah satu kekuatan paling besar dan konsisten di Bumi, yaitu lautan, telah lama diabaikan. Kini, setelah puluhan tahun menghadapi berbagai kendala, energi gelombang laut mungkin berada di ambang transformasi lanskap energi terbarukan.
Setiap gelombang yang menghantam membawa energi kinetik, dan lautan di dunia menawarkan sumber daya yang sangat besar namun sebagian besar belum dimanfaatkan. Menurut Laboratorium Energi Terbarukan Nasional Amerika Serikat (NREL), energi gelombang di lepas pantai AS saja dapat menghasilkan lebih dari 770 terawatt-jam per tahun — cukup untuk memasok listrik ke lebih dari 70 juta rumah.
Lalu, apa yang menghambat kita selama ini?
Secara historis, energi gelombang terkendala oleh tantangan teknis, biaya tinggi, dan lingkungan laut yang keras yang merusak prototipe sebelum dapat dikembangkan secara besar-besaran. Namun, terobosan telah datang dari Swedia, melalui sebuah perusahaan yang pengubah energi gelombangnya mampu bertahan dari badai musim dingin yang memecahkan rekor dan terus menghasilkan listrik ke jaringan listrik.
Berbeda dari turbin tradisional, pelampung ini tidak berputar — melainkan bergerak naik-turun dan menarik. Mengapung di permukaan laut dan ditambatkan ke dasar laut, pelampung ini menggunakan sistem mekanis cerdas dan kecerdasan buatan untuk menangkap energi dari gerakan naik-turun gelombang. Inovasi mereka, WaveSpring, memungkinkan pelampung untuk menyesuaikan diri dengan pola gelombang, meningkatkan penyerapan energi bahkan pada gelombang kecil. Selama pengujian, pelampung ini bergerak hampir 3 meter pada gelombang setinggi 1 meter.
Yang membuat ini semakin menjanjikan adalah bahwa energi gelombang melengkapi energi matahari dan angin. Sementara matahari mungkin redup di musim dingin dan angin bisa terhenti selama berjam-jam, gelombang laut datang hampir tanpa henti sepanjang waktu — dan sering kali mencapai puncaknya ketika sumber energi terbarukan lain menurun. Di tempat seperti California, menggabungkan energi gelombang dengan energi angin dapat mengurangi waktu henti hingga 90%.
Biaya selalu menjadi kendala, tetapi pendekatan ini berbeda. Dengan menggunakan struktur fiberglass komposit dan pabrik mobile di lokasi, mereka memangkas biaya produksi dan jejak karbon. Visi jangka panjang mereka? Biaya energi rata-rata (LCOE) serendah $32–$43 per MWh — setara dengan energi matahari dan angin darat.
Tantangan masih ada. Laut sangat keras, dan ketahanan jangka panjang komponen bawah air, dampak lingkungan seperti kebisingan atau gangguan terhadap kehidupan laut, serta skala penerapan semuanya memerlukan studi mendalam. Meski begitu, tanda-tanda awal sangat menjanjikan. CorPower berencana meluncurkan ladang gelombang berkapasitas 5 MW di lepas pantai Irlandia pada tahun 2026, yang akan ditingkatkan menjadi 30 MW pada tahun 2028. Proyek ini saja dapat memasok listrik untuk 4.200 rumah dan mengurangi emisi 27.000 ton CO₂ selama 10 tahun.
Seperti halnya energi angin dan matahari sebelumnya, energi gelombang membutuhkan dukungan untuk berkembang. Ini berarti investasi, pendanaan penelitian publik, dan kejelasan regulasi. Namun, dengan lebih dari $100 juta yang telah terkumpul, serta minat yang meningkat dari pemerintah dan perusahaan utilitas yang berorientasi pada iklim, energi gelombang kini mulai menggeliat.
Laut tidak pernah tidur — dan segera, jaringan listrik kita mungkin juga tidak akan tidur. Di dunia yang menuntut energi yang lebih bersih dan andal, energi gelombang bukan sekadar riak kecil. Ini bisa menjadi gelombang besar berikutnya.
